Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Moral Jurnalis dan Jurnalis Bermoral

Oleh Markus Makur, Anggota Forum Jurnalis Flores-Lembata (FJF-L) NTT

Santo Fransiskus de Sales menyebarkan banyak salinan tulisannya di komunitas Jenewa.Intuisi “jurnalistik” ini membuatnya memiliki reputasi yang dengan cepat melampaui batas keuskupannya, dan bahkan masih bertahan hingga hari ini. Menurut pengamatan Santo Paulus VI, tulisan-tulisannya merupakan bacaan yang “sangat menyenangkan, dapat menjadi panduan, dan 2 Surat Apostolik Totum Amoris Est (28 Desember 2022).

Konferensi Waligereja Indonesia menggerakkan”. Kalau sekarang kita melihat dunia komunikasi, bukankah ini ciri-ciri yang harus ada dalam sebuah artikel, laporan, program televisi atau radio, atau unggahan di media sosial? Semoga mereka yang bekerja di bidang komunikasi terinspirasi oleh Santo yang lemah-lembut ini, mencari dan menyatakan kebenaran dengan berani dan bebas, serta menolak godaan untuk menggunakan ekspresi sensasional dan agresif.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Kualitas Wartawan dan Media di Era Online

Dr Ignas Kleden dalam buku Fragmen Sejarah Intelektual, Beberapa Profil Indonesia Merdeka, Terbitan Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta 2020, mengangkat satu bagian tentang Mochtar Lubis: Tidak Takut Pada Rasa Takut. (Hal 296-305).Menurut Mocthar Lubis, ada enam ciri manusia Indonesia, yang boleh kita pertimbangkan relevansinya juga masa sekarang, yaitu sikap munafik, takut bertanggung jawab, feodal, cenderung kepada takhyul, artistik dan watak yang lemah. Bahkan Mocthar Lubis mengatakan korupsi pemikiran. Bahkan Mocthar Lubis mengutip George Orwell salam kaitan itu: jika pikiran kita mengkorupsi bahasa yang kita pakai, maka lambat laun bahasa akan mengkorupsi pikiran kita sendiri.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung