Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Pendidikan yang Membebaskan: Mengakar di Tanah NTT, Bukan di Buku Jakarta

Reporter : RedaksiEditor: Yan Klau
Oleh: Laurensius Bagus Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jurusan Teknik Sipil

“NTT Tak Butuh Lebih Banyak Sekolah, Tapi Sekolah yang Membuat Anak-Anaknya Berpikir dan Mencintai Tanahnya Sendiri”

Nusa Tenggara Timur (NTT) sedang bergerak maju di bidang pendidikan gedung-gedung sekolah berdiri, koneksi internet meluas, bantuan pemerintah terus mengalir.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Namun di balik kemajuan fisik itu, ada persoalan mendasar: pendidikan belum menyatu dengan kehidupan masyarakatnya sendiri.

Anak-anak di desa mengenal teori pertanian dari buku terbitan Jakarta, tetapi tidak tahu cara membaca tanda musim di ladang keluarganya. Mereka mempelajari ekonomi modern, namun tidak memahami bagaimana pasar lokal berdenyut di desanya sendiri. Inilah jurang besar antara pendidikan dan realitas sosial di NTT jurang yang tak bisa dijembatani hanya dengan membangun lebih banyak sekolah.

Ketika Sekolah Menjauh dari Kehidupan

Masalah pendidikan di NTT bukan semata soal kekurangan sarana, tetapi karena pendidikan yang tidak kontekstual. Kurikulum nasional yang seragam dan berorientasi urban membuat pengalaman lokal diabaikan sebagai sumber pengetahuan.

Anak-anak diajar untuk menjadi pekerja di kota, bukan pembaharu di tanah kelahirannya. Akibatnya, banyak lulusan sekolah justru ingin meninggalkan desanya. Mereka belajar keras bukan untuk membangun tempat mereka lahir, tetapi untuk pergi sejauh mungkin darinya.

Belajar dari Paulo Freire: Pendidikan yang Membebaskan

Filsuf pendidikan asal Brasil, Paulo Freire, pernah memperingatkan bahaya model pendidikan “bank”—di mana guru sekadar menabungkan pengetahuan ke kepala murid tanpa mengajak berpikir kritis. Pendidikan seperti itu, katanya, membuat manusia tunduk, bukan merdeka.

Freire menawarkan konsep conscientização, atau kesadaran kritis: pendidikan yang membuat murid mampu membaca realitas sosialnya dan bertindak untuk mengubahnya.

Bagi NTT, prinsip ini sangat relevan. Sekolah harus membantu anak memahami kemiskinan, kekeringan, dan ketimpangan di sekitarnya—bukan sekadar menghafal rumus tanpa makna.

Phronesis dan Kearifan Lokal

Filsuf Yunani Aristoteles menekankan pentingnya phronesis, kebijaksanaan praktis kemampuan mengambil keputusan etis dalam situasi nyata.

Dalam konteks NTT, phronesis berarti kemampuan menanam di lahan kering, menjaga air, memelihara ternak secara berkelanjutan, dan hidup selaras dengan alam. Pendidikan yang berakar pada kebijaksanaan lokal seperti inilah yang akan membangun kemandirian sejati.

Sekolah Sebagai Ruang Hidup, Bukan Ruang Asing

Di banyak tempat, seperti Manggarai Timur, sekolah memiliki lahan kosong yang tak dimanfaatkan. Padahal, jika lahan itu dikelola bersama siswa, bisa menjadi laboratorium hidup: tempat belajar ilmu tanah, ekonomi, dan tanggung jawab sosial sekaligus.

Inilah pendidikan yang mengakar belajar bertani bukan sekadar untuk panen, tetapi untuk berpikir dengan akarnya sendiri.

Inisiatif Lokal yang Menginspirasi

Beberapa komunitas di NTT mulai bergerak ke arah baru. Di Sumba Timur, misalnya, pendidikan alternatif menggabungkan pelajaran sekolah dengan kearifan lokal pengelolaan air dan ternak.

Anak-anak belajar meneliti sumber mata air, membuat sumur tradisional, dan menulis kisah leluhur tentang tanah.

Mereka belajar sains sekaligus spiritualitas ekologi, pendidikan ekologis yang menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap alam.

Langkah Pembaruan: Dari Kurikulum Hingga Komunitas

Untuk keluar dari jebakan pendidikan yang tidak kontekstual, ada empat langkah penting:

1. Kurikulum berbasis wilayah (place-based education).

Pelajaran harus terhubung dengan alam dan sosial budaya setempat. Misalnya, pelajaran IPA di Timor bisa memuat praktik konservasi air dan pertanian lahan kering.

2. Sekolah sebagai pusat riset masyarakat.

Siswa dan mahasiswa meneliti kehidupan sekitar—musim ikan di Lembata, pengelolaan air di Kupang, atau budaya pertanian di Flores.

3. Insentif bagi guru inovatif.

Pemerintah daerah harus memberi ruang bagi guru kreatif yang mengembangkan metode belajar berbasis kearifan lokal.

4. Kolaborasi sekolah dan komunitas adat.

Pengetahuan tradisional tentang musim, tanah, dan ternak harus masuk ke ruang kelas sebagai bahan ajar yang hidup.

Menuju Pendidikan yang Memerdekakan

Pendidikan di NTT tidak boleh hanya mencetak tenaga kerja, tetapi melahirkan manusia merdeka, mereka yang sadar akan tanahnya, budayanya, dan masa depannya sendiri.

Seperti kata Paulo Freire, “Pendidikan sejati adalah tindakan mencintai dunia dan berjuang untuk mengubahnya.”

Dan bagi NTT, perjuangan itu dimulai dari sekolah yang berakar di tanah sendiri sekolah yang menumbuhkan cinta, kebanggaan, dan daya cipta untuk membangun dari bawah.

1. Sekolah Tak Boleh Jadi Ruang Asing: Pendidikan Kontekstual Kunci Pembebasan NTT

2. Belajar dari Freire dan NTT: Saat Pendidikan Harus Kembali ke Tanah Sendiri

3. Pendidikan yang Membebaskan: Mengakar di Tanah NTT, Bukan di Buku Jakarta

4. NTT Tak Butuh Banyak Sekolah, Tapi Sekolah yang Menumbuhkan Kesadaran

Oleh: Laurensius Bagus Mahasiswa Universitas Cokroaminoto Yogyakarta Jurusan Teknik Sipil

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung