Dibalik itu wartawan juga dirindukan oleh orang yang sedang memperjuangkan kebenaran, keadilan serta membela hak-hak asasi manusia.
Banyak persoalan yang ditutup-tutupi, dan kaum tak bersuara menyalurkan informasi kepada wartawan untuk dipublikasikan.
Banyak persoalan yang membutuhkan wartawan untuk dibuka ke publik, bahwa ada persoalan yang membutuhkan solusi konkrit.
Tak sedikit publik menilai bahwa wartawan sudah berpihak kepada penguasa. Tidak berpihak kepada kaum tak bersuara. Apalagi kalau berkaitan dengan politik.
Wartawan selalu dituduh oleh lawan politik bahwa wartawan sudah tidak jujur, berpihak kepada penguasa, berada di bawah ketiak penguasa dengan berbagai kecurigaan-kecurigaan yang tidak berdasarkan data dan fakta.
Kadang-kadang wartawan digiring oleh keinginan-keinginan lawan politik untuk memojokkan penguasa. Profesi wartawan itu seperti pedang bermata dua. Ada yang tajam dan ada yang tumpul. Kembali kepada pribadi wartawan itu sendiri.
Jikalau wartawan itu memiliki integritas, tentu tuduhan dan kecurigaan itu tidak benar. Tapi kembali kepada manusia rapuh. Tidak semua wartawan memiliki integritas dengan profesinya.
Ada dugaan dengan profesi ini mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Dengan itu wartawan tidak lagi memakai bahasa kasih dan humanis melainkan bahasa yang menyudutkan supaya tujuannya bisa terwujud.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












