Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Jurnalisme Kasih

Selain itu, kunci bahasa kasih adalah jujur dengan fakta dan data. Bahasa kasih akan terlihat dalam menulis yang berimbang dari berbagai sudut pandang.

Setelah sekian tahun sebagai juru pensil dengan keberimbangan otak, hati dan jari, saya menemukan diri saya sebagai jurnalis kasih. Saya menganut “Jurnalisme Kasih”.

Hingga 2023 ini, kurang lebih 20 tahun saya menjalani profesi ini dengan meliput cerita, kisah humanis dari masyarakat yang tak bisa bersuara.

Saya sebagai jembatan kemanusiaan bagi kaum yang terbuang dan tak bisa bersuara. Tentu ada keterbatasan dalam liputan ini. Tapi itulah saya dengan gaya dan kepribadian saya.

Baca Juga :  Wakil Bupati Henri Melki Simu Resmi Buka Turnamen Sepak Bola Mini Putri Antar OPD, Pertama Kali di Kabupaten Malaka

Selama saya di Merauke dan bekerja sebagai wartawan media cetak di salah satu koran lokal beberapa kali menulis ficer, walaupun di sela-sela menulis hardnews sesuai dengan permasalahan yang berlangsung di tengah-tengah masyarakat dan pemerintah.

Setelah saya tidak lagi bekerja di media lokal ini karena media ini tidak lagi diterbitkan. Saya beralih bekerja sebagai stringer (kontributor)The Jakarta Post di wilayah Papua bagian tengah. Di media berbahasa inggris ini, saya lebih banyak mengangkat isu-isu humanis dengan menulis ficer.

Baca Juga :  Hadiri Pameran Pembangunan HUT ke-81 RI, Ketua DPRD Malaka Cek Kesehatan, Tinjau Stand, dan Sapa Warga

Selama kurang lebih 7 tahun, berada di bumi cenderawasih, Papua, sebagiannya sudah saya keliling seperti Kota Jayapura, Nabire, Paniai, Asmat, Merauke. Berkat profesi ini saya bisa naik pesawat, helikopter.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung