Saya memang memiliki keterbatasan kemampuan menulis. Membahasakan sesuatu yang mungkin membosankan.
Tapi, saya tetap berani walaupun banyak kesalahan dari struktur kalimat. Tidak runut. Tidak logis. Logika tidak pas. Bahkan mungkin kabur air. Itu sah-sah saja, saya nilai diri saya sendiri.
Sejak awal bergelut di profesi ini, saya sudah diingatkan berkali-kali oleh wartawan senior yang mendampingi, menuntun dan membesarkan saya bahwa menulis berita sebaiknya memakai bahasa kasih sesuai karakter dan budaya berkomunikasi dari keluarga, masyarakat dan lingkungan sosial.
Sejak hari pertama, saya mengetik di tuts komputer kantor, saya diingatkan oleh mentor saya, yang juga adalah kepala biro salah satu media cetak itu untuk memadukan bahasa hati, data yang dicatat dan olah akal.
Bahasa kasih harus menuntun akal sehat agar tulisan itu tidak membahayakan orang lain dan diri sendiri. Sebab, profesi sebagai wartawan itu, mempertaruhkan nyawa dan kaki sebelah akan berada di hotel prodeo, kalau karya jurnalistik melanggar Undang-Undang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ).
Awalnya saya ragu-ragu, bahkan ragu dengan pilihan yang saya putuskan untuk terjun di lumpur bernama jurnalis.
Bahkan terjadi pergolakan batin saya dengan pilihan ini yang belum tahu arahnya ke mana. Sebab, sebelumnya saya menjadi guru Bahasa Inggris di sekolah favorit di Kota Merauke.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












