Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Jurnalisme Kasih

Saya meneruskan suara dari kaum tak bersuara. Ketika saya mengalami hidup susah, tidak ada yang peduli dengan saya. Dan saya sendiri bersama keluarga yang mengatasi kesulitan hidup.

Semua itu saya memegang teguh “jurnalisme kasih” dalam setiap pewartaan. Selain itu, sesama wartawan juga tetap mencari nyaman, dan tak peduli dengan sesama. Jangan berharap dari penguasa yang sudah menyimpan rasa benci dan dendam terhadap wartawan.

Kalau seandaianya para penguasa memahami bahwa wartawan itu menyalurkan bahasa kasih. Tentu banyak yang peduli saat seorang wartawan dirundung kasus, diadukan oleh pembaca dan publik di lembaga penegak hukum.

Khusus di Indonesia, wartawan dan media massa merupakan pilar keempat dalam negara demokrasi. Sebenarnya dari keempat pilar demokrasi terjadi simbiosis mutualisme.

Baca Juga :  Hadiri Pemberkatan Jembatan Numbei, Ketua DPRD Malaka Sampaikan 3 Pesan Penting untuk Warga

Profesi Dilupakan Sekaligus Dirindukan

Sering dijumpai dalam keseharian bahwa profesi wartawan itu dilupakan sekaligus dirindukan. Karena apa dilupakan, karena ada yang kurang senang dengan apa yang diwartakan oleh wartawan di perusahaan medianya.

Apalagi seorang wartawan yang sudah mempublikasikan kebobrokannya, kemunafikan dalam kebijakannya, maka disana terjadi kebencian, dendam hingga menjurus untuk dilupakan. Hal ini nyata dalam keseharian di alam demokrasi.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung