Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Jurnalisme Kasih

Sekolah Menengah Atas Negeri Satu Merauke. Bahkan terjadi perdebatan dengan kakak saya yang berkaitan dengan pilihan saya ini. Tapi jalan hidup sudah saya pilih dan risikonya saya akan tanggung sendiri.

Begitulah roda berputar dalam kehidupan seorang manusia yang rapuh. Pilihan ya tetap pilihan. Sebab saya sendiri yang akan menjalankan pilihan kerja seperti ini. Selanjutnya, saya mengikuti pilihan hati, walaupun bermodalkan nekat.

Tiap manusia yang berakal budi memiliki rezeki masing-masing. Sesuai pedoman iman saya bahwa Tuhan yang saya akui, imani pasti tidak meninggalkan saya sendirian. Buktinya hingga saat ini saya masih setia di jalan hidup ini dengan profesi yang saya pilih.

Walaupun, dalam perjalanan karir berupa-rupa tantangan dan kesulitan, bahkan mengalami stress tatkala hasil karya tidak dipublikasikan di media. Sebab, penghasilan saya berdasarkan jumlah berita. Inilah perjalanan karir sebagai jurnalis.

Baca Juga :  Merah Putih, Antara Simbol Kemerdekaan dan Tanggung Jawab Nyata

Beda saat menjadi wartawan di media cetak dengan status karyawan perusahaan dimana saya bekerja. Ada gaji bulanan, ada bonus, dan beberapa pendapatan sesuai aturan perusahaan.

Setelah berhenti bekerja di media cetak,di Tanah Papua. Saya beralih bekerja sebagai stringer (kontributor) di media The Jakarta Post.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung