Tidak ada ikatan resmi antara pemilik perusahaan media dengan wartawannnya yang berstatus wartawan lepas. Apalagi yang mendirikan media online tanpa ada kekuatan modal untuk membayar upah wartawannya.
Seumpama seorang petani yang mengolah lahan tandus menjadi lahan subur dan bisa ditanami dengan berbagai jenis tanaman yang menghasilkan kehidupan, begitupun seorang wartawan kata kasar menjadi bahasa halus, bahasa kasih, bahasa humanis yang menyejukkan semua orang.
Tapi ada sindiran-sindiran yang halus yang sering tidak diterima pembaca, apalagi kaum penguasa. Apalagi kalau dipahami dengan hati bahasa sindiran itu menguntungkan penguasa untuk mengubah diri, mengelola dengan adil kebijakannya.
Tapi, ada dugaan penguasa memiliki pemahaman dengan sumbu pendek dan menyulut api kemarahan. Maka, apalagi terjadi kemarahan, di sana ada kebencian dan dendam kesumat.
Memang tidak semua penguasa yang menaruh kebencian kepada wartawan. Ada juga penguasa yang humanis saat berhadapan dengan kuli tinta, dan era kini kuli digital.
Untuk itu era media online adalah era disrupsi yang kadang-kadang meresahkan profesi lainnya, tentu tidak semua.
Saya bersyukur dengan profesi ini, walaupun saya mengalami kesulitan, tapi saya tetap bertahan dengan memegang teguh pada integritas diri sebagai jembatan dari kaum marginal, terbuang dan dipinggirkan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












