Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Jurnalisme Kasih

Seorang Wartawan itu harus setia kepada akal budinya untuk melahirkan wartawan yang memiliki kedewasaan dalam mempublikasikan informasi dari masyarakat. 

Oleh: Markus Makur, Anggota Forum Jurnalis Flores-Lembata (FJF-L) NTT

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Berangkat dari perjalanan karier jurnalis saya di tanah Musamus, Merauke, Papua Selatan, 2003 silam. 20 tahun lalu hingga saat ini, kini dan mungkin ke depan.

Baca Juga :  Dr. Ajiz Djaha Soroti Kerancuan Data Pemangku Adat di Kabupaten Malaka

Saya juga kurang tahu di masa akan datang, apakah masih bertahan dengan profesi ini atau beralih ke profesi lain, hanya waktu yang akan menjawab.

Memang, saya memiliki niat untuk bertahan di profesi ini sampai liang lahat. Tapi, manusia rapuh kadang-kadang oleng seperti perahu dihempas oleh gelombang.

Saya minta Sang Waktu untuk berjalan bersamaku di profesi ini. Apa hebatnya profesi? Pertanyaan ini membutuhkan permenungan yang sangat mendalam dan juga membutuhkan ketenangan batin untuk menjawab pertanyaan ini. Membutuhkan refleksi.

Baca Juga :  Pemkab Malaka Siagakan 35 Unit Traktor dan Ekskavator Olah Lahan di Wilayah Pegunungan

Tapi, bagi saya, saya sedikit menjawab sesuai perjalanan hidup saya yang berprofesi sebagai wartawan yakni hebatnya profesi ini karena mewartakan bahasa kasih, bahasa hati.

Bahasa kasih menuntun akal saya untuk menulis pada keberpihakan bagi domba yang hilang. Dipinggirkan. Dilupakan. Disisihkan. Dibungkam. Dibuang. Terbuang. Terpinggirkan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung