Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Rapuhnya Perjuangan SN-KT Menuju Kabupaten Malaka Yang Berswasembada Pangan

Oleh: Bonifasius Atolan, Wartawan Radar Malaka

Beras Nona Malaka hanya ada saat launching (12 Desember 2022, red) lalu hilang lagi atau langkah saat masyarakat sedang teriak lapar dan butuh makan. Dan itu terjadi tepat saat masyarakat sedang berada di lingkaran musim tanam. Beras Nona Malaka sudah seperti Nona Siluman atau cocoknya diberi nama ‘Beras Nona Siluman Malaka.’ Keunggulannya yaitu hadir dimusim panen dan hilang lagi saat musim tanam. Ia ada beberapa saat sesudah masyarakat sedang menikmati hasil panen dari lahan mereka, dan tiada ketika lumbung pangan keluarga miskin di Malaka mulai kosong.

Anehnya, ditanggal 3 Maret 2023, usai rapat dengar pendapat dengan DPRD Malaka, Kadistan Malaka, drh. Januaria Maria Seran masih menjelaskan, bahwa beras Nona Malaka yang dilaunching pada tanggal 12 Desember 2022 jumlahnya sebanyak 12 ton. Padahal menurut sumber lain terpercaya, jumlah beras yang diperoleh sebesar 60% dari jumlah gabah yang digiling. Dengan demikian, bila 9 ton gabah yang digiling, maka beras yang diperoleh hanya 5,4 ton. Lalu mengapa diumumkan 12 ton? Lebih aneh lagi, Beras Nona Malaka yang diproduksi pertama itu hanya dijual kepada Bank NTT dan kepada para Kepala OPD di Kabupaten Malaka. Sisanya ke Rumah Jabatan Bupati Malaka. Sedangkan masyarakat hanya sebagai penonton dengan perut lapar. Pertanyaannya, Beras Nona Malaka itu untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat ataukah khusus (ekslusif) untuk memenuhi kebutuhan para pejabat? Kalau hanya untuk dijual kepada para pejabat selain ke bank NTT, maka brand Beras Nona Malaka perlu diganti namanya menjadi Beras Nona Pejabat Malaka.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung