Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Rapuhnya Perjuangan SN-KT Menuju Kabupaten Malaka Yang Berswasembada Pangan

Oleh: Bonifasius Atolan, Wartawan Radar Malaka

Berikut, terkait Penunjukan off staker produksi Beras Nona Malaka juga diduga syarat kepentingan dan bahkan terkesan telah ada kesepakatan tertentu. Hal ini dilihat dari penyediaan fasilitas oleh pemerintah untuk pengusaha tertentu seperti rumah produksi, mesin pemoles beras dan peralatan lainnya. Pengusaha yang bersangkutan tinggal memanfaatkannya untuk meraup keuntungan. Padahal, seharusnya pengusaha yang menyiapkan fasilitas, karena pengusalah yang akan meraup keuntungan dari usaha tersebut, bukan untuk pemerintah? Hal tersebut memberi indikasi tidak adilnya Pemerintahan SN-KT terhadap semua pengusaha di kabupaten Malaka.

Itukah maksud SN-KT tentang Program Malaka Swasembada Pangan di Kabupaten Malaka? Pertanyaan ini cukup dijawab saja oleh SN-KT di dalam hati dan dalam tindakan tanpa harus dalam sabda. Tujuan SN-KT mungkin mulia, tetapi jauh dalam pelaksanaannya karena tidak ada yang baru dari program ini. Beras Nona Malaka hadir sesaat sekedar untuk memenuhi janji politik SN-KT, tetapi sejauh ini belum berdampak apa-apa bagi kesejahteraan masyarakat Malaka ditiga tahun kepemimpinan SN-KT. Karena produksi pangan yang meningkat belum tentu itu indikasi bahwa Malaka mencapai ketahanan pangan oleh karena swasembada pangan. Sebab, unsur ketahanan pangan pada akhirnya mengarah pada kesejahteraan petani. Sementara itu, per tahun 2022, jumlah anak stunting di Kabupaten Malaka masih ada sebanyak 3.076 anak atau sekitar 18,9 persen dari jumlah penduduk Malaka. Jadi, Bupati SN belum punya alasan kuat untuk membanggakan capaianya terkait swasembada pangan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung