Hal lain, yaitu kurangnya ketersediaan pupuk bersubsidi bagi petani. Dalam keadaan mendesak, petani terpaksa harus membeli pupuk non subsidi yang harganya mencekik petani, bahkan ada petani yang karena tidak sanggup membeli pupuk non subsidi, produksi lahan pertaniannya tidak maksimal.
Sementara itu, dukungan alat system pertanian/Alsistan bagi petani juga masih terbatas. Hemat penulis, adalah tidak mungkin meningkatkan luas lahan pertanian dan tingkat produksi petani tanpa dukungan alat dan mesin pertanian yang menjangkau semua petani sebagai sumber produksi pangan. Temuan faktual di lapangan, bahwa alat dan mesin pertanian yang saat ini ada di masyarakat, sebagian besar dikuasai segelintir orang, terutama para ketua kelompok tani. Sebagai contoh, tractor yang disumbangkan ke kelompok tani hanya dikuasai oleh ketua kelompok atau salah satu anggota yang memiliki hubungan dekat dengan salah satu pejabat di pemerintahan.
Kedua, Penelantaran Alsistan dan Pendistribusian Tidak Tepat Sasaran. Berdasarkan penelusuran penulis, saat ini ALSINTAN yang tercatat pada Dinas Pertanian Malaka berupa 60 unit traktor roda 4, mesin alat panen padi dan alat panen jagung, 2 unit exavator dan beberapa jenis lainnya. Saat ini hanya 6 unit dari 60 unit tractor yang berfungsi baik, sedangkan sisa lainnya berpotensi mejadi besi tua. Pemerintah Kabupaten Malaka yang dipimpin Bupati SN juga seakan tidak peduli untuk merawat dan memperbaiki alat-alat tersebut dan dibiarkan terbengkalai.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












