Tampak, bahwa rupanya SNKT hanya cukup lantang berbicara menyakinkan rakyat, namun sesungguhnya menyembunyikan sesuatu yang bersifat urgen, substantif, yang sebenarnya belum mampu diperlihatkan kepada khalayak umum, yakni masyarakat Malaka.
Fenomena inilah yang dalam bahasa Parmenides, seorang filsuf Yunani Kuno menyebutnya sebagai ‘doxa politik’. Kata ‘doxa’ berasal dari bahasa Yunani yang berarti pendapat (opinion). Pendapat tersebut bisa tentang berbagai hal seperti pendidikan, cara memberantas kemiskinan, cara hidup yang baik, dan sebagainya. Namun, kata itu bisa juga berarti penampakan (appearance), yakni sesuatu yang tampaknya saja begitu, tetapi berbeda dari apa yang tampak. Reza A.A Wattimena, seorang Dosen Politik dan Filsafat Ilmu Pengetahuan pada Universitas Katolik Widya Mandala, dalam bukunya ‘Filsafat Perselingkuhan Sampai Anoreksia Kudus’, mengatakan bahwa ‘doxa’ memiliki aspek penipuan karena menutupi kebenaran dibaliknya. Perubahan di dalam realitas itu sebenarnya hanyalah ‘doxa’, yakni yang tampaknya saja (appearance). Yang sebenarnya terjadi adalah realitas tidak pernah berubah. Jika demikian, apa relevansi konsep ‘doxa’ dengan konsep politik SNKT, dalam usaha mewujudnyatakan program swasembada pangan di wilayah Kabupaten Malaka? Relevansinya jelas, bahwa berdiskursus perihal suksesnya program swasembada pangan, maka politik SNKT hingga sekarang masih sebatas ‘doxa’, yakni politik penampakan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












