Politik itu seni menggulingkan lawan dan memenangkan kawan. Tapi kadang-kadang kawan juga dalam satu institusi partai politik digulingkan demi memenangkan lawannya. Tidak ada kawan dan lawan dalam perpolitikan. Yang ada hanya kepentingan kekuasaan, uang, harta dan kehormatan. Yang ada dalam diri seorang politisi adalah kepentingan demi kepentingan. Pertanyaan refleksinya, kepentingan seperti apa yang diinginkan para politisi?
Dalam Buku Sakramen Politik, Eddy Kristianto, OFM mengatakan, politik itu jalan keselamatan. Politik itu suci. Begitu banyak buku yang memaparkan tentang politik. Bagi penulis, politik itu adalah satu pandangan hidup yang didalamnya ada kepentingan diri, kelompok, keluarga dan rakyat. Puncak dari karier seorang politisi adalah kuasa, uang, perempuan dan harta.
Dalam buku Kebenaran dan para kritikusnya mengulik idea besar yang memandu zaman kita, Prof Dr. Fransisco Budi Hardiman menyatakan politik tanpa fakta bisa menyesatkan. Pengadilan tanpa fakta berubah menjadi ketidakadilan dan kebohongan. Sains tanpa fakta tak ubahnya dengan gosip yang membahayakan. Media tanpa fakta akan menyebarluaskan kebohongan yang akan menghancurkan masyarakat. Fakta adalah kebenaran, dan hal itu seperti disinggung di atas, adalah prestasi modernitas. Masalah muncul jika pemahaman kekenaran disempitkan hanya pada pada fakta sehingga fakta hanyalah satu-satunya jenis kenenaran. Fakta dianggap sebagai ‘keseluruhan kebenaran’, padahal mustahil kita mengetahui keseluruhan kebenaran itu. (Hal. 24-25)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












