Berbeda dengan kaum perempuan di Asia, apalagi di Manggarai yang masih dikungkung oleh budaya patrilineal. Tentu tidak semua di Asia, dan juga di Manggarai. Khusus di arena berpolitik, masih banyak kaum perempuan yang masa bodoh dengan hak politik. Bahkan bisa dikatakan cuek dengan berpolitik, walaupun secara regulasi dan hak yang sama untuk berpolitik. Regulasi berdemokrasi di Indonesia lewat jalur politik sudah agak baik dengan mewajibkan 30 persen kaum perempuan berpolitik lewat Partai Politik. Tapi implementasikan masih jauh dari panggang api. Perempuan NTT, umumnya dan Manggarai, khususnya masih tidak gubris dengan berpolitik. Dampaknya kebijakan politik yang berpihak pada kaum perempuan masih sebatas angan-angan dan impian, kalau mau disebut seperti itu. Hak-hak politik kaum perempuan dipangkas sendiri oleh kaum perempuan itu. Ini sangat merugikan bagi kaum perempuan itu sendiri sehingga dominasi politik kaum laki-laki masih sangat terasa dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, birokrasi dan lembaga parlemen dan juga pimpinan Partai Politik sendiri.
Politik Itu Keren dan Asyik
Tema yang diusung penulis, diluruskan oleh politisi Perempuan NTT dari Partai Hanura, yang juga Bakal Calon Legislatif NTT, Lusia R. Yosheline Lana saat diskusi lepas di Sekretariat Partai Hanura Manggarai Timur di Kampung Kembur, Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, Sabtu, (13/5/2023).
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












