Budaya Bukan Berpihak pada Perempuan melainkan ke laki-laki
Penulis mengambil contok kecil dengan budaya masyarakat Manggarai Raya. Kental dengan budaya patrilineal yang turun temurun diwariskan dimana anak perempuan atau seorang istri tidak dilibatkan dalam berbagai ritual adat atau rapat-rapat dalam keluarga. Tidak terjadi perdebatan antara perempuan dan laki-laki tatkala apa yang disuarakan laki-laki tidak sesuai dengan yang dipikirkan perempuan. Tidak ada forum yang mana perempuan berani bersuara lantang seandainya ada hal-hal yang tidak sesuai dengan kepentingan perempuan. Pada prinsipnya, perempuan hanya menerima saja apa yang disampaikan oleh laki-laki. Bahkan, tidak pernah duduk sederajat saat dilangsungkan pertemuan keluarga, apalagi hayatan berpolitik. Kaum perempuan hanya mengurus hal-hal domestik. Hak suara perempuan tidak diperhitungkan oleh kaum laki-laki. Hak-hak asasi perempuan tidak setara dengan hak-hak asasi laki-laki, walaupun sama-sama memiliki hak dan martabat manusia sederajat. Lebih khusus di lapangan politik praktis.
Dampak sosial yang dialami kaum perempuan bahwa suara mereka sebagai perempuan disepelekan oleh suara kaum maskulin. Fakta lain bahwa kaum maskulin sangat dinilai memiliki standar sosial lebih tinggi dalam urusan berpolitik sehingga kaum feminin sangat tidak diperhitungkan dalam arena perpolitikan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












