Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Pers Yang Sehat dan Berkualitas

Saat sesi diskusi berlangsung, moderator memberi kesempatan kepada saya untuk membuka diskusi tentang Hari Kebebasan Sedunia. Pertama saya menyampaikan Selamat Merayakan Hari Kebebasan Sedunia yang ke 30. Acara ini sangat mendadak. Tapi, saya bersyukur yang saya hubungi lewat pesan whatsapp bisa menyisihkan waktu dan hadir untuk membahas tentang kebebasan pers di Manggarai Timur. Dari tema Hari Kebebasan Pers Sedunia dengan tema yang ada dibagian bawah artikel ini. Kami sepakat memilih tema lokal sesuai konteks Manggarai Timur, yakni “Kebebasan Pers dan Demokrasi Lokal”

Baca Juga :  Sedih Sekali! Warga Harap Berobat Dekat, RS Pratama Wewiku Malah Dibiarkan Menyusut, Kasusnya Pun Dikubur

Saya tidak memakai tema. Saya bicara apa adanya sesuai apa yang saya alami selama berkarya di Kabupaten Manggarai Timur. Sejak 2011, saya bekerja sebagai wartawan di Manggarai Timur,khususnya dan NTT umumnya bahwa saya merasakan kebebasan saat meliput di kampung-kampung. Tidak ada yang mengawasi saya selama saya melakukan tugas peliputan di pelosok-pelosok. Tapi, kesulitan yang saya alami berkaitan akses yang belum terbuka dan transparan di lembaga birokrasi. Misalnya, saya sudah mengumpulkan data dan fakta lapangan, namun saat dikonfirmasi di lembaga birokrasi, kadang-kadang respons mereka agak lama bahkan berhari-hari tanpa ada pemberitahuan berikutnya. Bahkan responsnya dengan mengatakan, nanti kami (birokrasi) kirim datanya melalui pesan whatsapp.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung