Dialog lintas generasi terjadi. Ia mengisahkan menunggang kuda dari Bari karena ia memiliki kuda. Ia mengisahkan menunggang kuda di puar mengot antara Bari dan Raba. Kalau diurutkan Bari-Raba-Pacar dan sebaliknya Pacar-Raba-Bari. Perjumpaan tak terduga dan berkisah. Memori kisah sekolah saling sambung menyambung.
Ia mengisahkan masa pendidikan angkatan pertama di SMPN Pacar. Tinggal di asrama loteng dalam satu gedung sekolah. Bagian bawahnya ruang kelas. Menimba air dan mandi di mata air Wae Regheng dan Wae Wangkung. Sulit. Mau bagaimana lagi. Intinya sekolah untuk masa depan yang kini dinikmati dengan berbagai prestasi yang ia diraih.
Tamat SMAN 1 Ruteng. Merantau ke Bali. Mengenyam pendidikan di perguruan tinggi. Modal menulis opini di media cetak Harian Bali untuk membiayai pendidikannya. Hingga akhirnya menjadi wartawan Harian Bali. Ia menuturkan bahwa ia menjadi wartawan tanpa membuat lamaran, tapi berkat menulis opini di harian itu, ia ditawarkan menjadi wartawan harian tersebut. Sungguh menakjubkan kisahnya. Bermodalkan menulis opini. Mendapatkan uang dan ditawarkan menjadi wartawan. Puncak karier jurnalistiknya menjadi pemimpin Redaksi Harian Bali. Pernah dosen. Kini menjadi penguji UKW dan kini menyandang ahli pers.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












