Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

Perjumpaan Dua Insan Pers Dengan Secangkir Kopi Pait di Kota Dingin Ruteng

Markus Makur, Jurnalis Manggarai Timur, Flores, NTT

Ia mengisahkan masa pendidikan di SMPN Pacar. Menunggang kuda dari Bari ke Beatoro, lokasi SMPN Pacar. Kisah menunggang kuda dari Bari ke Ruteng dengan rute Bari-Raba-Hita-Pacar-bermalam di Kampung Lambur, bermalam lagi di Meler, Cancar. Jadi dari Bari ke Ruteng ditempuh dengan waktu dua hari. Saat perjalanan itu melewati hutan rimba, puar mengot, bahasa Kolangnya. Ada perasaan takut. Itu pasti. Ditambah lagi cerita-cerita mistis. Misalnya di hutan antara Kampung Bari dan Raba, ada makhluk inewiu (sejenis babi hutan yang memiliki, maaf payudaranya besar dan panjang). Ia bilang bahwa di hutan itu banyak inewiu. Entah benar atau tidak, ini cerita yang didengarnya.

Cerita Pedagang Ikan ke Bari

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Kami mengisahkan pedagang ikan dari Cancar, Ndoso, Wela, Rego dan Pacar. Orang Kolang tidak pernah pola ikan tapi pembeli ikan. Bari berada di pinggir pantai di bagian utara dari Manggarai Barat.

Dulu, Bari adalah pusat transaksi jual ikan. Papalele atau pedagang Ikan dari Cancar, Wela, Ndoso, Pacar dan Rego berjalan kaki membeli ikan di Bari. Berminggu-minggu, pedagang itu jalan kaki dengan jarak ratusan kilometer. Mereka pikul ikan atau biasa disebut pola ikang.

Ia mengisahkan pedagang dari wilayah pegunungan saat tiba di Bari tidur diatas pasir. Waktu itu belum banyak rumah. Beberapa hari tidur di jalan. Bawa bekal untuk makan di jalan. Biasanya mereka pulang hari Jumat sambil pikul atau pola ikang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung