Tepat Pukul 12.00 wita, kami bergegas menuju ke arah barat dari kampung itu. Mobil dikendarai Om Bone. Kami berempat di dalam mobil. Sebelum berangkat, kami berdoa agar perjalanan hari itu berjalan dengan lancar dan aman.
Laju kendaraan penuh kehati-hatian karena jalan raya berlubang serta menuruni lembah. Kemudian jalan mendaki menuju kampung perbatasan Kabupaten Manggarai dengan Manggarai Barat. Sebagian aspal di jalan itu terkelupas. Itulah tantangan dari perjuangan para pemulih martabat manusia yang terkesan terbuang karena menderita gangguan jiwa.
Perjalanan kurang lebih menempuh waktu satu setengah jam dari Kampung Urang ke Kampung Wae Dangka, Desa Racang Welak, Kecamatan Welak, Kabupaten Manggarai Barat. “Kami tiba sekitar pukul 13.30 Wita. Kami melewati beberapa kampung di kiri kanan jalan tersebut. Kami dihibur dengan keindahan alam, persawahan terasering di perbukitan di pelosok Manggarai Barat. Perkampungan itu berada di sisi selatan dari gunung Poco Kuwuh.
Begitu kami tiba dipinggir jalan pedesaan di Kampung Wae Dangka, kami disambut dengan penuh ceria, gembira dan penuh kehangatan sebagai satu keluarga. Kami dipersilahkan masuk ke rumah keluarga dimana salah satu anggota keluarga menderita sakit gangguan jiwa dan terpasung di sebuah kamar yang berada di dalam rumah tersebut. Kami duduk bersila diatas tikar (Lose/loce) yang terbuat dari anyaman daun pandan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












