Pada 16 Oktober 1467 saat berusia 50 tahun, atas persetujuan istrinya Dorothea, Niklaus meninggalkan rumah dan menjadi pertapa. Mereka menjalani 20 tahun hidup berkeluarga. Anaknya sulungnya Hans berusia 20 tahun dan si bungsu Niklaus berumur 13 minggu. Si sulung Hans sudah bisa menjaga ibu dan adik-adiknya.
Niklaus memulai babak baru dalam hidup. Dia meninggalkan semua hartanya. Dia meninggalkan jabatan publiknya. Dia meninggalkan istri dan anak-anak. Dia ingin hidup miskin dan menjadi pembawa damai.
Awalnya Niklaus berjalan menuju Luzern dan terus ke arah Basel. Dia ingin menjadi peziarah seperti Fransiskus dari Asisi(1181-1226). Tapi Niklaus berhenti di Liestal-Baselland. Dia kembali ke Ranft dan tinggal di gubuk kayu.
Niklaus ingin mendalami relasi hidup dengan Tuhan melalui doa dan puasa. Tuhan menghadiahkan anugerah-anugerah istimewa padanya. Ia memperoleh ketenangan batin dan peneguhan rohani. Tahun 1469, dewan kanton mendirikan sebuah kapela. Sejak itu seorang imam dari Kerns, Oswald Isner merayakan ekaristi setiap hari.
Niklaus memperoleh mujisat istimewa. Selama 20 tahun pertapaan dia tidak makan. Dia hanya minum air putih dan menerima komunio setiap pagi. Dia sehat dan percaya bahwa Sakramen Ekaristi menguatkan jiwa raganya. Dia percaya pada kehendak Tuhan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












