Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

RASUL PERDAMAIAN DARI ALPEN SWISS (Mengenang Santu Klaus & Mengapresiasi P. Ernst Waser SVD)

Stefanus Wolo Pr, Imam Projo KAE Misionaris Fidei Donum Di Keuskupan Basel Swiss 

Mereka juga keluarga katolik yang taat. Niklaus tidak memperoleh pendidikan formal. Dia tidak bisa membaca dan menulis. Setiap malam orang tuanya selalu menceriterakan kitab suci dan sejarah pada Niklaus. Sang ibu berharap agar Niklaus kelak menjadi imam.

Petani terpandang, pemuka kampung dan imam atau hidup membiara adalah cita-cita bergengsi jaman itu. Pemuka kampung menguasai sosial politik. Petani menguasai urusan perut. Imam atau biarawan menguasai literasi dan kebajikan hidup.

Niklaus hidup pada masa perang. Pada usia 15 tahun dia sudah pandai bermain pedang. Tahun 1440-1444 dia terpilih sebagai komandan pasukan tempur di Zürich. Ibunya bangga karena Niklaus juga berjiwa patriotik. Karena kebijaksanaannya, Niklaus kemudian terpilih menjadi dewan pemerintah, hakim kanton dan anggota parlemen.

Sang ibu tetap berharap agar Niklaus menjadi imam. Tapi harapan itu pupus karena Niklaus menikahi Dorothea Weiss tahun 1447. Mereka membangun rumah sendiri dan dikaruniai 10 anak, 5 puteri dan 5 putera.

Baca Juga :  Sesuai Kuasa Bupati, Wakil Bupati Henri Melki Simu Lantik 3 Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama

Niklaus adalah petani yang ulet. Dia juga bapak keluarga yang tekun berdoa. Dia berdoa di rumah dan sering sendirian ke atas bukit Ranft. Dia juga berpuasa setiap hari Senin, Rabu, Jumat dan Sabtu. Sudah ada pratanda bahwa Niklaus ingin menjalani hidup khusus.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung