Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Menerapkan Metode Mengajar Ala Pater Flori Laot, OFM Dengan 4R Sesuai Konteks Budaya Manggarai-NTT

Oleh: Markus Makur, Jurnalis NTT Tinggal di Manggarai Timur

Pendekatan dengan bahasa Manggarai 4R yang direfleksi Pater Flori sangat diterima oleh masyarakat dan anak sekolah. Dalam bahasa 4R, tidak ada permusuhan, tidak kebencian, tidak ada irihati, tidak ada kesombongan. Yang ada hanya persaudaraan, kekeluargaan dan persahabatan lintas generasi.

Bagi saya, ini kesekian kalinya Pater Flori menggetarkan jiwa saya untuk menulis kembali yang apa yang sudah dilakukannya semasa berpastoral di wilayah Manggarai. Kini raganya tidak kelihatan, tetapi jiwanya terus hidup dalam diri setiap umat, masyarakat, anak sekolah yang sudah ia layani.

Filsafat Bahasa Manggarai 

Pertama-tama Pater Flori tahu bahasa Manggarai sebab sehari-hari di masa kecil sampai menjadi imam missionaris selalu memakai bahasa Manggarai sebagai bahasa pelayanannya. Ia memahami bahasa Manggarai sebagai filsafat bahasa Manggarai. Bahasa bijak yang menyatukan semua orang Manggarai. Bahasa sastra Manggarai dipahami sebagai bahasa persatuan yang menyatukan semua orang Manggarai. Ia tahu betul makna dan arti bahasa Manggarai dalam keseharian orang Manggarai itu sendiri. Bahasa Manggarai adalah bahasa dialog yang menyatukan semua orang Manggarai dengan latarbelakang berbeda. Beda karakter, tapi satu dalam bahasa. Ia sangat mencintai bahasa Manggarai. Mungkin saat berjumpa dengan Sang Guru di surga, ia memakai bahasa Manggarai. Saya pun tidak tahu. Entahlah. Ia memahami Sang Guru Agung yang berpastoral pada zamannya memakai bahasa harian orang Yahudi. Ia menerjemahkan bahasa Sang Guru dengan bahasa harian yang sangat diterima oleh kalangan orang kecil. Ia tidak memakai bahasa dengan istilah ilmiah yang tak dapat dipahami oleh masyarakat. Ia benar-benar memakai bahasa daerah, bahasa Manggarai supaya dekat dengan umat, masyarakat dan anak sekolah. Bahkan kotbahnya, sebagaimana saya dengar dari berbagai umat di Manggarai dengan metode dialogis. Ia juga berdialektika dengan memakai bahasa Manggarai. Kemanapun ia berpastoral dengan jalan kaki, saat berjumpa umat di jalan dan kampung ia berdialog dengan memakai bahasa Manggarai. Ia membuat umatnya tertawa dengan dialog humornya. Ia tak menjaga jarak dengan umat yang dilayaninya. Ia mendekatkan diri dengan gaya dialogis kepada umat dan masyarakat yang dijumpainya saat berpastoral. Ia sangat lentur dengan gaya bahasa Manggarainya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung