Berteologi Dengan Bahasa Manggarai dan Dialogis
Ia sangat mengetahui karakteristik orang Manggarai dari bahasa harian yang digunakan dalam kehidupan keluarga dan lingkungan sosial. Untuk itu ia berteologi dengan bahasa Manggarai dan dialogis agar Sang Sabda sangat membumi di hati umat dan masyarakat. Ia mewartakan Sang Sabda dengan konteks Manggarai yang sangat menyentuh hati umat Manggarai. Ia berteologi sambil berjalan dari kampung ke kampung, bahkan dari ladang ke ladang, dan tak lupa melalui lembaga pendidikan. Selain itu, ia berpastoral ekologi sesuai dengan kebiasaan masyarakat yang bertani. Ia juga berpastoral pertanian dengan menanam cabe di sekitar lahan paroki. Selain itu, ia membuat lahan tandus menjadi lahan subur dengan terasering. Selain itu, ia menanam berbagai jenis agar lokasi paroki tetap sejuk dan menjadi tempat bersarangnya burung-burung. Ia juga merawat lingkungan hidup dengan menanam pohon-pohon yang sangat sesuai jenis tanah di wilayah pelayanan pastoralnya.
Baginya 4R juga berhubungan dengan alam semesta. Alam semesta di Reis, Ruis, Raes, dan Raos agar alam semesta tetap memberikan kesejukan kepada manusia yang tinggal dan menghuni bumi.
Ia sangat memahami dan merefleksikan apa yang dilakukan pendirinya, Santo Fransiskus Asisi yang bisa berbicara dengan makhluk lainnya. 4R itu bagian dari alam semesta yang menyatu dalam diri manusia. Alam sebaiknya disapa, didekati, dirangkul dan bersahabat sesuai dengan budaya setempat, yakni budaya Manggarai, khususnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












