Dia mengisahkan, “Saat proyek pembangunan Pansimas dilakukan, anggaran berasal dari pusat sebesar 245 juta dan 35 juta dari dana desa. Masyarakat telah menggunakan fasilitas tersebut selama satu tahun, setelah itu mesin pompanya hilang,” kisah Fransiskus.
“Kini, mereka membongkar selang air dari Pansimas 2021 untuk melengkapi proyek air yang baru,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Hali Malaka (Halma), Gabriel Manek Klau, juga menyesalkan tindakan Kepala Desa Patrisius. “Ada yang memberi tahu saya untuk melihat karena ada orang yang membongkar selang air Pansimas Halma. Ketika saya datang, mereka sedang membongkar di situ. Saya bertanya siapa yang menyuruh mereka untuk membongkar pipa ini? Mereka menjawab bahwa pipa ini dibongkar untuk digunakan di Berasi,” ungkap Gabriel.

Gabriel sempat ingatkan mereka, “Jika ingin membongkar, kita harus musyawarah terlebih dahulu karena Pansimas ini milik masyarakat, dan saya sebagai ketua kelompok berhak menentukan langkah ini,” lanjutnya.
Sementara itu, Marselinus Seran, yang diperintahkan Kepala Desa untuk melakukan pembongkaran, mengakui bahwa dia dan staf lainnya mengikuti perintah Kepala Desa untuk mendampingi kontraktor menunjukkan lokasi pipa air yang akan dibongkar. Menurutnya, mereka hanya melaksanakan apa yang diinstruksikan Kepala Desa.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












