Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Goet Kolang 5J dan 5K Untuk Kritik Sosial Bagi Masyarakat Manggarai Agar Selaras Dengan Perkataan dan Perbuatan di Kehidupan Lingkungan Sosial

Oleh: Markus Makur, Jurnalis NTT Tinggal di Manggarai Timur

Bahasa ibu sangat bermakna dalam ziarah hidup orang Manggarai Raya lebih khusus orang Kolang. Kolang, kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, hawa panas.

Seluruh kehidupan manusia Manggarai Raya ditopang oleh bahasa ibu yang memiliki makna perjuangan, persatuan, persaudaraan, persahabatan dan kekeluargaan.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ritual-ritual adat selalu memakai bahasa ibu untuk mewarisi budaya yang turun temurun diwariskan nenek moyang. Benar bahwa manusia itu makhluk berbahasa. Bahasa mampu menjalin komunikasi antar pribadi. Dengan bahasa, manusia bisa saling mengenal, mengerti dan memahami satu sama lain dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dengan berbahasa juga manusia bisa bermusuhan, berkonflik dan lain sebagainya. Bisa dikatakan dengan sebutan ‘perang’ bahasa.

Watak 5K dalam diri Orang Manggarai 

Selain 5J dalam goet bahasa Manggarai yang dipakai oleh orang Manggarai, khususnya orang Kolang, ada juga goet lainnya yakni 5K. 5K itu, kembeleih, Kembeluak, Kuak, kembelejak dan Karukak. Kembeleih (masa bodoh), kembeluak (acuh tak acuh), Kembelejak.(sikap tidak peduli), Kuak (tak mau mengikuti perintah), karukak (tukang buat kasus).

Semua goet ini mengkritik kehidupan pribadi orang Manggarai dan Sosial kemasyarakatan bahwa hidup itu harus bekerja keras, saling menghargai, saling menghormati antara yang tua kepada yang muda dan sebaliknya yang muda selaras dengan norma-norma dan nilai sosial dalam budaya Manggarai. Selain itu, goet ini juga memacu insan Manggarai Raya untuk peka, peduli terhadap sesama anggota keluarga, sesama anggota masyarakat apabila ada kesulitan hidup. Selain itu, empati terhadap sesama yang sangat membutuhkan bantuan disaat seseorang ada kesulitan yang membutuhkan bantuan segera. Selain itu hidup sosial kemasyarakatan tidak saling bermusuhan, tidak membuat konflik dengan umpatan bahasa yang tidak sesuai dengan norma-norma dan nilai- nilai sosial. Melainkan hidup penuh perdamaian, persaudaraan, persahabatan dan rasa kekeluargaan yang sangat dalam dan seimbang.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung