Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Goet Kolang 5J dan 5K Untuk Kritik Sosial Bagi Masyarakat Manggarai Agar Selaras Dengan Perkataan dan Perbuatan di Kehidupan Lingkungan Sosial

Oleh: Markus Makur, Jurnalis NTT Tinggal di Manggarai Timur

Leluhur Orang Manggarai Sebagai Penemu Bahasa Manggarai 

Entah belajar dari mana leluhur orang Manggarai menjadi penemu bahasa Manggarai sendiri dengan goet-goet Manggarainya. Butuh kajian linguistik untuk menemukan asal usul bahasa Manggarai. Siapa leluhur Manggarai yang menemukan bahasa Manggarai. Belum ada ahli bahasa orang Manggarai yang menemukan itu. Tetapi, orang Manggarai sebagai pemakai bahasa Manggarai yang diwariskan oleh leluhur ribuan tahun silam.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Bahkan seorang Misionaris SVD, Pater Verheijen, SVD dengan teliti dan fokus mencatat bahasa Manggarai yang disebut Manggarai Text. Semua goet dalam masyarakat Manggarai Raya dicatat dan dinarasikan sesuai konteks saat ini dan masih selaras di era digital. Bahkan Save Dagun dari Institute Manggarai menerbitkan Buku Ensiklopedia Bahasa dan budaya Manggarai.

Salah satu dari sekian pendekatan yang dilakukan orang Manggarai untuk mengurangi karakter 5J dan 5K itu dengan pendekatan humanis yang diimplementasikan oleh Pater Florianus Laot, OFM dengan metode 4R (Reis, Ruis, Raes dan Raos). Tentu bahasa humanis menjadi kunci agar kebiasaan 5J dan 5K perlahan-lahan dikikis dalam kehidupan sosial kemasyarakatan Manggarai. Cara lainnya adalah melalui lembaga pendidikan. Lembaga pendidikan dengan berbagai ilmu pengetahuan mampu membebaskan pikiran manusia Manggarai yang masih kaku dan tradisional. Kemudian, metode lain adalah budaya duat (kerja, bekerja). Jadi untuk mengikis watak 5j dan 5K hanya bisa dilakukakan dengan pendekatan pendidikan, budaya dan bahasa yang dipergunakan Pater Florianus Laot, OFM yakni 4R dalam kesehariannya.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung