Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

Dari Kampung Waedangka ke Kampung Waebouk, Kisah Berjalan Bersama Kaum Terpasung di Nusa Terus Terpasung, Indonesia

Oleh Markus Makur, Anggota Forum Jurnalis Flores-Lembata (FJF-L) NTT

Malamnya, kami makan malam di rumah teman satu angkatan dari Pater Avent Saur, SVD yang memilih mengabdi menjadi pendidik di salah sekolah menengah pertama (SMP) di Orong, Ibukota Kecamatan Welak. Makan malam dengan hidangan yang lezat, ayam bakar, ada daging dan tentu ada nasi. Di tambah hidangan penutup adalah minum tuak atau moke. Tepat pukul 23.00 wita, kami kembali ke Pastoran dan langsung istirahat untuk memulihkan tubuh yang rapuh.

Sabtu pagi di Pastoran Orong

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Suara ayam berkokok di sekeliling pastoran membangunkan kami untuk lekas bangun. Suara ayam sudah memberi tanda bahwa pagi telah tiba dan saatnya bangun dari tempat tidur. Waktunya memulai dengan aktivitas pagi. Saya, Om Bone dan Feri masih belum bangun karena badan masih agak lelah. Tak lama kemudian, Pater Avent, SVD membangunkan kami untuk sarapan pagi.

Tak lama kemudian, kami bangun dan menuju ke meja makan. Di meja makan yang sudah dihidangkan, duduk seorang Frater Tahun Orientasi Pastoral (TOP), umat biasa sebut Frater TOP. Frater ini calon imam Keuskupan Ruteng. Ia berasal dari Kampung Sita, Manggarai Timur. Berbincang-bincang ala kadar sambil sarapan pagi sungguh merasakan kebersamaan lintas usia, lintas profesi, lintas etnis, tapi satu iman.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung