Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

Tumpul Nurani, Ketika Nenek Yasinta Jadi ‘Musuh’ PKH Desa Alas Selatan

Mirisnya lagi, petugas PKH itu menyuruh Yasinta untuk bertanya langsung kepada Kepala Desa, seolah masalah yang dihadapi Yasinta hanyalah hal sepele.

“Karena saya tidak puas, saya bertanya ke ibu pengurus itu, tapi ibu mengarahkan saya untuk tanya bapa desa,” ungkapnya.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

“Sejak jam 8 pagi saya duduk di sini sampai malam, menunggu panggilan, tetapi nama saya tidak ada yang panggil. Katanya nama saya sudah dicoret dari PKH,” sambung nenek Yasinta.

Suara dan wajahnya menunjukkan betapa mendalamnya kekecewaan yang dialaminya. Rasa kehilangan akan keamanan yang diberikan bantuan tersebut membuatnya semakin merasa terasing dan putus asa di usia senjanya.

Terpisah, Kepala Desa Alas Selatan, Gregorius Hale, saat dihubungi wartawan media ini lewat telepon whatsapp-nya, mengatakan bahwa selama ini dalam proses pendataan maupun pembagian bantuan PKH, dirinya tidak dilibatkan.

“Kita perlu klarifikasi yang bagus dan prosedur yang jelas, dan kita tidak saling mempersalahkan. Jika data diambil tanpa komunikasi dengan kami, bagaimana kami bisa tahu?” ungkap Kades Gregorius.

“Informasi bahwa hari ini terima PKH kami juga tidak tahu. Seharusnya, kalau ada masalah seperti itu, pendamping PKH itu telepon kami supaya kami dapat menindaklanjutinya dengan cepat. Ini sudah malam, ditambah hujan lebat, bagaimana kami bisa menyelesaikannya jika kami tidak mendapatkan informasi?” tanya Kades dengan tegas.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung