Kadang-kadang, ber-sigu juga menghibur satu sama lain dengan goet-goet yang memiliki nilai humornya.
Sinis Yang Tajam, Tapi Saling Menghormati
Sigu adalah sinis yang tajam, tapi saling menghormati antara mitra dialog. Banyak hal yang diumpamakan melalui bahasa dengan goet-goet Manggarai yang membutuhkan kecerdasan dalam memahami lawan bicara. Tentu intuisi dan sikap yang mendengarkan lawan bicara menjadi kunci untuk memahami ungkapan perumpamaan yang dibicarakan oleh mitranya. Tanpa itu, orang tidak akan memahami apa maksud dalam perumpamaan itu yang diduga kritik secara halus tapi menohok.
Save Dagun, Penulis Buku Ensiklopedia Manggarai dari Institute Manggarai saat diminta tanggapannya tentang Sigu secara singkat menjelaskan Sigu adalah bentuk kritik yang disampaikan secara halus tetapi menohok. Tampaknya orang Manggarai mempunyai tata cara kritik. Ini contoh pendidikan Budi pekerti yang perlu kita rawat.
Sejauh yang saya alami pada masa kecil hingga saat ini, bahwa kekinian orang Manggarai masih merawat budaya diskusi dengan metode “sigu”. Bahkan, memakai bahasa menjadi kunci kekuatan dalam ber-sigu-an ditengah-tengah kehidupan sosial kemasyarakatan. Bahasa halus dengan narasi yang apik dipakai oleh masyarakat Manggarai saat dilangsungkan saling “sigu”.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












