Ketika ada persetujuan dari anggota kelompok atau anggota keluarga yang mau ber-sigu, maka satu per satu membahasakan sesuatu dengan perbandingan demi perbandingan yang dapat dimengerti oleh mitra dialog, bahkan para pendengar yang mendengarkan penutur “sigu” dari penutur pertama paham dengan dialek atau goet yang dituturkan itu mulai berpikir untuk membalas dengan bahasa “sigu” lainnya. Prinsip utamanya adalah saling mendengar dan tidak boleh memotong pembicaraan lawan saat dilangsungkan goet atau dialek “sigu”. Dan “sigu” sendiri dapat dipahami dengan bahasa perumpamaan demi perumpamaan dengan memakai bahasa Manggarai. Tidak bisa memakai bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. Hanya memakai perumpamaan atau sastra lisan dalam goet bahasa Manggarai.
Tentu dalam kelompok itu mengetahui kepada siapa perumpamaan goet itu dituju. Dan lawan bicara tahu bahwa bahasa “sigu” ditujukan kepada siapa. Untuk itu, perhatian dan simak baik-baik apa yang disampaikan oleh penutur pertama yang membuka “bahasa sigu”. Ada kalanya perumpamaan dalam kehidupan sehari-hari, seperti watak “ngonde”, (malas) watak “ngende” (minta belas kasihan) dan lain sebagainya sesuai apa yang dijumpai dalam pengalaman hidup harian. Begitu lawan bicara mengetahui bahwa bahasa “sigu” ditujukan, orang itu akan membalas kepada penutur pertama dengan bahasa “sigu” goet lainnya.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












