Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

Sigu, Kritikan Sosial Dengan Junjung Tinggi Nilai Persaudaraan

Markus Makur, Jurnalis di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur

Setelah saling lempar goet “sigu” dilangsungkan dalam nuansa persaudaraan dan kekeluargaan, semua diakhir dengan tertawa bersama-sama untuk menghilangkan goet “sigu” dan kembali akrab satu sama lain. Tidak ada permusuhan, tidak ada kebencian. Tidak ada kesombongan, tidak saling menguasai satu sama lain. Biasanya, orang-orang tua yang pandai dengan membahasakan goet atau dialek “sigu” dengan bahasa keseharian.

Baca Juga :  PS Malaka U‑12 Libas SSB Putra Nagekeo 3‑0 Melaju ke Final, Bupati SBS Tersenyum Bangga di Stadion Oepoi

Nuansa kebersamaan dijunjung tinggi dan memang tidak memakai aturan yang ketat. Mengalir begitu saja “goet sigu” tersebut.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Kebiasaan lain yang dilakoni bahasa “sigu” adalah saat tarian caci dilangsungkan. Biasanya bahasa “sigu” dibawakan dengan syair lagu kepada lawan tanding cacinya. Jikalau lawan tandingnya paham makna “sigu” yang dilantunkan dalam syair lagu bahasa Manggarai, lawan tandingnya berbicara dalam bahwa ” oe sigu te latang landu gho” dan jikalau mengena dalam hati lawan tandingnya maka lawan tandingnya akan membuat syair “sigu” balik. Atau dalam kebiasaan lainnya yang disampaikan oleh seorang “tongka” (juru bicara adat) saat acara peminangan dalam sistem perkawinan orang Manggarai. Maka, seorang “tongka” dalam sistem perkawinan orang Manggarai bukanlah orang sembarangan. Seorang “tongka” harus memiliki wawasan luas serta memahami budaya serta memahami maksud apa yang disampaikan dari “tongka” lain saat dilangsungkan acara peminangan. Biasanya “tongka” dari pihak keluarga perempuan dan pihak laki-laki.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung