Setelah saling lempar goet “sigu” dilangsungkan dalam nuansa persaudaraan dan kekeluargaan, semua diakhir dengan tertawa bersama-sama untuk menghilangkan goet “sigu” dan kembali akrab satu sama lain. Tidak ada permusuhan, tidak ada kebencian. Tidak ada kesombongan, tidak saling menguasai satu sama lain. Biasanya, orang-orang tua yang pandai dengan membahasakan goet atau dialek “sigu” dengan bahasa keseharian.
Nuansa kebersamaan dijunjung tinggi dan memang tidak memakai aturan yang ketat. Mengalir begitu saja “goet sigu” tersebut.
Kebiasaan lain yang dilakoni bahasa “sigu” adalah saat tarian caci dilangsungkan. Biasanya bahasa “sigu” dibawakan dengan syair lagu kepada lawan tanding cacinya. Jikalau lawan tandingnya paham makna “sigu” yang dilantunkan dalam syair lagu bahasa Manggarai, lawan tandingnya berbicara dalam bahwa ” oe sigu te latang landu gho” dan jikalau mengena dalam hati lawan tandingnya maka lawan tandingnya akan membuat syair “sigu” balik. Atau dalam kebiasaan lainnya yang disampaikan oleh seorang “tongka” (juru bicara adat) saat acara peminangan dalam sistem perkawinan orang Manggarai. Maka, seorang “tongka” dalam sistem perkawinan orang Manggarai bukanlah orang sembarangan. Seorang “tongka” harus memiliki wawasan luas serta memahami budaya serta memahami maksud apa yang disampaikan dari “tongka” lain saat dilangsungkan acara peminangan. Biasanya “tongka” dari pihak keluarga perempuan dan pihak laki-laki.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












