“Yang jelas kami merasa sangat terbantu dengan adanya pelatihan ini. Selama ini kan kami mengolah pakan dengan cara yang kurang baik sehingga hasilnya kurang bermutu,” kata Adri kepada media ini, Jumat, (2/6/2023).

Peserta lainnya Remigius Mon juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya sebagai penyandang disabilitas memang diperlukan model-model pengolahan pakan yang lebih praktis tapi tetap menghasilkan pakan berkualitas tinggi. Dia mengaku sebelum mengikuti pelatihan sempat ingin mencari tempat belajar pengolahan pakan fermentasi. Sehingga, ketika ada program pelatihan dari Yayasan Ayo Indonesia, Remi sangat antusias. Harapannya akan lebih memudahkan Remi dalam beternak babi.
“Selama ini saya beternak dengan apa adanya saja. Semoga ilmu yang sama dapatkan bisa berguna bagi saya setelah pulang dari sini,” tambah Remi.
Dia menambahkan dengan pakan fermentasi diharapkan bisa menghemat biaya dan waktu dalam berternak. Sebab sebagaimana masyarakat pada umumnya penyandang disabilitas ingin berkembang dan mandiri dalam berusaha.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












