Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Penyandang Disabilitas di NTT Ikuti Pelatihan pembuatan Pakan Fermentasi

“Kami penyandang disabilitas cukup kesulitan biaya hidup. Semoga ke depan dengan pelatihan ini kami bisa memenuhi biaya hidup sendiri,” ucap Remi.

Sementara itu, project officer Yayasan Ayo Indonesia Jeri Santoso mengatakan penyandang disabilitas cukup kesulitan mengakses pekerjaan formal. Karena itu perlu terobosan melalui usaha-usaha informal termasuk beternak. Karena itu dengan pelatihan pembuatan pakan diharapkan dapat meminimalisir tantangan yang dihadapi penyandang disabilitas selama beternak.

“Tujuan pelatihan di antaranya meminimalisir tantangan yang mereka hadapi. Tentu dengan harapan ada peningkatan pendapatan sehingga terbentuknya jaring pengaman khususnya dalam hal mata pencaharian,” ucap Jeri.

Ditambahkan, program pelatihan pembuatan pakan fermentasi sendiri merupakan bagian dari program Kelompok usaha dan bisnis inklusif (KUBIK), yang merupakan kerjasama program Yayasan Ayo Indonesia dan Netherland Leprosy Relief (NLR) Indonesia.

Baca Juga :  Oktelin Kurniawati Kaswadie, Amanah Baru Sebagai Ketua PMI Malaka, Bukan Soal Uang Tapi Panggilan Hati

Peserta sendiri dipilih setelah melalui rangkaian proses yang cukup panjang. Dimulai pada tahun 2022 lalu. Melalui program KUBIK dilakukan proses seleksi terhadap 90 penyandang disabilitas. Kemudian mengerucut jadi 50 orang.

Setelah dilakukan studi baseline, salah satu tantangan kurangnya akses ke pelatihan keterampilan dan vokasi. Pada tahap pengajuan proposal, terpilih 25 penyandang disabilitas untuk mengikuti pendampingan lebih lanjut berupa pengembangan kegiatan wirausaha termasuk beternak babi.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung