Sedangkan pada program swasembada pangan, dinas pertanian dari rumah ke rumah mendata hasil produksi petani, padahal tidak pernah bagikan benih dan pupuk untuk petani. Apalagi melakukan pendampingan. Lebih tragis, hasil produksi petani yang tidak pernah diintervensi anggaran dari Pemda, dibeli pihak ketiga karena tidak tersedia anggaran dan diklaim sebagai hasil Pemda Malaka. Karung disiapkan Bank NTT, dilabeli dengan branding Nona Malaka dan dilaunching Bupati Malaka. Program Swasembada Pangan, input dan proses tidak jelas, apalagi mengharapkan output yang baik. Tapi SN-KT cukup berani dan heboh untuk memberitakan keberhasilan melalui media sosial. Belum cukup sampai disitu, pemerintahan SN-KT bekerjasama dengan salah satu televisi swasta untuk memberikan Award atau penghargaan kepada pencetus program (siluman) yang menipu banyak kalangan. Pada zaman SN-KT dengan program siluman tersebut, stok beras dan jagung sangat kurang maka harga melambung. Namun pemerintah daerah malah sibuk menerima penghargaan. Ini sebuah ironi sekaligus pembodohan dan penipuan kepada publik.
Semoga masyarakat dengan hati yang jujur dapat memilih pemimpin yang tepat. Yang tidak bersandiwara, tetapi iklas memperhatikan Renu Malaka. Semoga!
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












