Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Mengungkap Fakta Keberhasilan Implementasi Program Revolusi Pertanian Malaka Versus Swasembada Pangan

Penulis: Yoseph Kupertino Neri Molo, SH

Untuk mendukung pengolahan lahan, maka diadakan traktor besar dan hand traktor yang banyak. Bahkan balik tanah untuk masyarakat dilakukan secara gratis. Para penyuluh pertanian diberikan motivasi dengan pengadaan kendaraan operasional roda dua untuk mendukung aktifitas dan mobilitasnya. Pada masa ini direkrut petugas/penjaga pintu air untuk mengatur dan memantau distribusi air.

Sedangkan program Swasembada pangan, hanya mengandalkan rasa percaya diri dan adrenalin dari Dinas Teknis. Sama sekali tidak ada pendampingan dari pihak luar. Betapa tidak, Dinas Pertanian dizaman SN-KT beberapa kali mengalami pergantian dan rotasi pimpinan. Awalnya ditempatkan seorang Kepala Dinas dengan basic sarjana perikanan dan mantan camat. Karena dinilai tidak berhasil diganti lagi dengan kepala dinas yang berlatar belakang ilmu sosial. Saat ini dipimpin oleh seorang dokter hewan yang akan mengurus pertanian Malaka. Uji coba ini dinilai sangat memprihatinkan dan menimbulkan salah kelola atau mismanagement. Latarbelakang pendidikan pimpinan dan staf Dinas Petanian serta intensitas rotasi pejabat teknis yang tinggi, menjadi faktor penentu kualitas perencanaan dan penganggaran program swasembada. Ketidaksiapan SDM menjadi problem terbesar untuk mendukung keberhasilan tersebut. Pada periode tersebut, program swasembada pangan hanya mengandalkan traktor-traktor peninggalan periode sebelumnya, dan karena lemahnya pengawasan, traktor-traktor itupun rusak dan tidak diperbaiki hingga kini. Kesejahteraan aparatur juga tidak diperhatikan, makanya menambah panjang litani kegagalan program yang satu ini dari aspek Input.

Baca Juga :  Hadiri Penandatanganan MoU, Bupati Malaka Apresiasi Langkah PS Malaka Bersama Persija Development

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung