Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Mengungkap Fakta Keberhasilan Implementasi Program Revolusi Pertanian Malaka Versus Swasembada Pangan

Penulis: Yoseph Kupertino Neri Molo, SH

BIDIKNUSATENGGARA.COM | Menarik untuk menyandingkan sekaligus mengkoparasikan program unggulan tiga kandidat Bupati Malaka, yang akan mengikuti perhelatan Pilkada serentak pada 27 November 2024. RPM racikan SBS Bupati Perdana Malaka, versus Swasembada Pangan ala SN-KT, dimana masing-masing mereka (SN-KT), memilih “berseteru” pada hajatan pilkada Malaka nanti.

Mengapa harus menyandingkan dan membandingkan program unggulan para kandidat Bupati tersebut tersebut? Jawabannya agar publik Malaka memiliki informasi yang lengkap dan benar tentang program unggulan para kandidat yang akan bertarung pada Pilkada Malaka Tahun 2024.

Sebelum mengulas lebih jauh tentang kedalaman dua program unggulan tersebut, terlebih dahulu kita memahami batasan dari RPM dan Swasembada Pangan. Defenisi operasional dari Revolusi Pertanian Malaka atau RPM adalah upaya yang sungguh-sungguh dan luar biasa, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya masyarakat berkecukupan pangan. Sedangkan Swasembada Pangan secara harafiah didefinisikan sebagai suatu kondisi dimana negara atau daerah mampu memproduksi sendiri pangan untuk masyarakatnya.

Beberapa aspek perlu ditelisik lebih dalam untuk mengungkap fakta dan kebenaran program unggulan para kandidat Bupati tersebut. Pertama, aspek Input atau masukan. Pada tataran input, RPM didampingi Tim pakar pertanian yang berasal dari lingkungan akademisi beberapa perguruan tinggi ternama di NTT, yang memiliki reputasi dan rekam jejak yang tidak diragukan publik NTT. RPM Malaka juga didukung dengan kualitas aparatur Dinas teknis yaitu Dinas Pertanian yang dipimpin seorang Insinyur pertanian dan didukung pula oleh barisan staf yang mumpuni dan solit. Mereka memiliki kemampuan yang handal. Kolaborasi Tim Pakar dan Tim Dinas teknis tentu menghasilkan kualitas perencanaan dan penganggaran yang matang dan terukur. Konsep OVOP (One Village One Product atau satu desa dengan satu produk unggulan) yang diusung Tim Pakar diterapkan dengan terlebih dahulu pemetakan potensi dan dan daya dukung lingkungan (tanah, iklim dan faktor lainnya). Tim pakar bersama Dinas Teknis mengindentifikasi dan memetakan jenis tanah setiap lokasi untuk memastikan kesesuaian komoditas yang akan dikembangkan. Berdasarkan hasil analisis Tim Pakar dan Diknas Teknis, maka berhasil dikembangkan beberapa komoditas yaitu padi sawah, jagung, kacang, bawang merah, pisang, kambing dan itik. Beberapa komoditas ini dikembangkan dengan mempertimbangkan kelayakan, daya dukung lingkungan, serta secara ekonomis lebih cepat menghasilkan income atau pendapatan untuk petani.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung