Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Daerah  

Kematian Siswa SD di Ngada: Negara Sibuk Beri Makan, Tapi Lalai Menjamin Hak Pendidikan

Reporter : Ferdy BriaEditor: FB

BIDIKNUSATENGGARA.id | Dunia pendidikan Indonesia kembali gempar dengan kematian tragis seorang siswa Sekolah Dasar (SD) berinisial YBS (10 tahun), yang ditemukan tewas gantung diri di pohon cengkeh di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Insiden ini terjadi pada 29 Januari 2026, bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan cerminan kegagalan sistemik negara dalam menjamin hak dasar anak atas pendidikan dan perlindungan.

Baca Juga :  Kepala Desa Forekmodok Apresiasi Kehadiran RSUPP Betun yang Tepat Waktu Pasca Musibah Banjir

Korban, siswa kelas IV SD, diduga putus asa setelah ibunya tidak mampu membeli buku tulis dan pena seharga kurang dari Rp10.000, sebuah permintaan sederhana yang berujung pada hilangnya nyawa.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Kronologi insiden ini mengungkap lapisan kemiskinan ekstrem yang merajalela di daerah terpencil NTT. Menurut polisi setempat, YBS sempat menulis surat perpisahan berbahasa Ngada kepada ibunya, MGT, yang berisi pesan pilu, “Merelakan saya pergi, jangan menangis, mencari, atau marah.”

Surat itu, ditulis dengan tangan goyah, menjadi saksi bisu penderitaan anak yang terpinggirkan. “Ini bukan sekadar bunuh diri, tapi manifestasi kegagalan negara dalam melindungi anak dari beban ekonomi yang tak pantas,” kata Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung