Ia juga menambahkan bahwa penanganan stunting harus dimulai dari desa, dengan memperkuat peran kepala desa, kader posyandu, dan perangkat desa untuk efektivitas pencegahan.
Kepala Puskesmas Kobalima Timur memaparkan adanya tren positif penurunan angka stunting. Hasil rapat evaluasi Juni 2025 mencatat 178 anak mengalami stunting, yang kemudian menurun menjadi 152 anak pada rapat evaluasi kedua di September 2025. Meskipun demikian, pihak puskesmas menekankan bahwa stunting tidak hanya terkait gizi buruk, tetapi juga erat kaitannya dengan sanitasi, pola asuh, akses kesehatan, hingga pendidikan keluarga.
Mini lokakarya ini menekankan pentingnya kolaborasi. Pihak kepolisian, TNI, PKK, dan kader KB berperan aktif dalam menyusun strategi bersama.
Camat Gaudentiana menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat bergantung pada kesadaran kolektif masyarakat dan kesungguhan lintas sektor dalam mengimplementasikan program.
Sebagai agenda rutin evaluasi, lokakarya ini juga menjadi ruang refleksi atas capaian program kesehatan di wilayah perbatasan. Pemerintah berkomitmen bahwa percepatan penurunan stunting bukan sekadar mencapai target angka, tetapi untuk menyiapkan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












