TIMORMEDIA.COM – Hujan yang masih mengguyur sejumlah wilayah Indonesia pada bulan Juni 2025 menimbulkan pertanyaan publik, mengingat periode ini seharusnya sudah memasuki musim kemarau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa fenomena ini terjadi akibat gangguan dinamika atmosfer.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan bahwa hujan yang terjadi di musim kemarau ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk lemahnya monsun Australia, sirkulasi siklonik, serta pertemuan angin dari arah timur dan barat.
“Sebetulnya yang terjadi adalah dinamika atmosfer yang dikontrol oleh lemahnya monsun dari Australia, yang seharusnya membawa musim kemarau,” jelas Dwikorita dalam keterangan pada Selasa (8/7).
Selain itu, BMKG juga mencatat adanya sirkulasi siklonik di sebelah barat Bengkulu dan pengaruh tidak langsung dari badai tropis di utara Indonesia. Kedua faktor ini memperkuat pembentukan awan hujan.
Fenomena ini juga didorong oleh pertemuan angin timuran dan baratan, terutama dari wilayah selatan Jawa hingga Lombok.
Pertemuan angin tersebut membentuk zona konvergensi yang meningkatkan intensitas hujan di wilayah seperti Jawa Barat dan Jabodetabek.
“Zona pertemuan ini menyebabkan perlambatan dan pembelokan arah angin menuju utara, yang memacu pembentukan awan hujan secara intensif,” kata Dwikorita.
BMKG menambahkan, suhu muka laut yang masih hangat di perairan Indonesia turut memperkuat pembentukan awan-awan hujan. Fenomena ini pertama kali terdeteksi pada 28 Juni, dan peringatan dini telah dikeluarkan sejak awal Juli.
BMKG memastikan bahwa kondisi ini mulai menunjukkan tanda-tanda mereda dan pergerakan hujan diperkirakan akan bergeser ke wilayah Indonesia bagian tengah dalam beberapa hari ke depan.
“Diperkirakan mulai besok hujan akan berkurang. Sekitar 10 Juli akan bergeser ke Kalimantan Timur, Sulawesi, lalu ke Maluku dan Papua,” jelasnya.
BMKG sejak Maret 2024 sudah memperkirakan bahwa awal musim kemarau 2025 akan mengalami keterlambatan di 29 persen Zona Musim (ZOM), terutama di wilayah Lampung, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga akhir Juni 2025, pemantauan menunjukkan bahwa hanya 30 persen wilayah Indonesia yang telah memasuki musim kemarau.
Jumlah ini jauh di bawah normal, yang biasanya mencapai 64 persen pada periode yang sama.
Meski kondisi global seperti ENSO dan Indian Ocean Dipole (IOD) berada dalam fase netral dan diperkirakan tetap netral hingga akhir tahun, BMKG memperkirakan anomali curah hujan ini akan bertahan hingga Oktober 2025.***
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












