Suasana hangat penuh canda dan diskusi ringan tapi bukan gosip menyambut malam itu, ditemani kopi dan hidangan sederhana. Keesokan harinya, Selasa, 17 Juni 2025, saya memulai hari dengan doa pagi dan mempersiapkan perjalanan jauh. Saya mengajak Yeris, pemuda pendiam dari Desa Golo Tolang yang dikenal sebagai penulis novel berbakat. Dengan analisis tajam dan tutur kata yang menyejukkan, Yeris adalah teman perjalanan yang menyenangkan. Bersama Om Libert, yang mengemudikan kendaraan double gardan, kami memulai petualangan ke pelosok Manggarai Timur.
Menyusuri Jalanan Transflores
Dari Kampung Tambak, kami melintasi jalan Transflores yang ramai dengan aktivitas warga Kota Borong. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan perkotaan, saya merenung: setiap orang punya kebutuhan dan kesibukan masing-masing, namun misi kami hari ini adalah untuk mereka yang terpinggirkan.
Kami menuju Kampung Lingkodia, Kelurahan Kota Ndora, untuk mengambil dua kursi roda. Dari sana, perjalanan berlanjut melalui jalan utama Golokarot-Gololada-Peot, hingga ke pertigaan Mukun di Jalan Provinsi Ruteng-Mukun-Elar Selatan. Medan yang menantang hanya bisa dilalui kendaraan tangguh, namun semangat kami tak surut.
Setelah melewati pertigaan Waling dan Banggarangga, kami tiba di Watunggong, ibu kota Kecamatan Congkar, lalu melanjutkan perjalanan menuju Kampung Belang, Desa Wae Lokom. Di sana, kami bertemu Bripka Hery dan Ehji Sarlenso, seorang wartawan, yang datang dari arah timur.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












