Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Memaknai Ketegasan Sikap SBS Sebagai Pemimpin Berintegritas Dan Berempati

Oleh: Yoseph Kupertino Neri Molo, SH, Koordinator Aliansi Pemuda Peduli (APPI) Malaka

Pada sisi lain masyarakat Malaka, sedang berhadapan dengan ragam persoalan hidupnya. Ini sebuah pertaruhan dan pilihan seorang pemimpin cerdas, yang dengan ketegasannya berpihak kepada kaum kecil. Baginya, untuk masyarakat apapun harus dilakukan, dan tidak ada kata, TIDAK BISA. dr. Stef terkenal sebagai pemimpin solutif, yang selalu merancang langkah alternatif penanganan setiap persoalan yang dihadapi. Ini wujud perhatian dan empati beliau kepada masyarakat yang dicintainya. Kondisi ini yang membuat segelintir orang yang sering dibina dalam konteks manajemen atau dimarahi dalam plintiran politis rival politik, melihatnya sebagai tindakan tidak terpuji, otoriter dan arogan.

Salah kah dr. Stef yang adalah seorang Bupati saat itu yang karena keberpihakan, tanggunghjwab dan empatinya terhadap persoalan masyarakat, membina dan memarahi ASN yang terus menerus melakukan kesalahan yang sama?

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Secara umum label kemarahan lebih dikonotasikan secara negatif, apalagi dalam balutan kepentingan politik. Dalam praktek manajemen dan kepemimpinan, kemarahan sesungguhnya sebuah kompetensi yang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin.

Menurut Sarlito dalam Harry Tjahjono (2016), mengatakan: kemarahan sebagai kompetensi memiliki dua (2) sifat: Pertama, genuine (murni, Ikhlas). Sifat pertama dilakukan pemimpin karena dia ingin melakukan kebaikan dan perbaikan, perubahan positif. Ada standar tinggi yang dijaga dan diharapkan diraih pemimpin. Itu sebabnya kemarahan seorang pemimpin merupakan antithesis dari pemimpin yang hipokrit atau munafik, yang sepintas kelihatan sabar, kalem, senyam-senyum, kaka-kiki, tetapi sesungguhnya menyimpan dendam dan amarah serta menutupi kebenaran, so populis dan santun berucap namun sarat kepentingan dan ingat diri. Pemimpin jenis ini ibarat, serigala berbulu domba. Pemimpin yang tidak konsisten antara ucapan dan Tindakan. Pemimpin yang hanya menebar pesona atau pencintraan, biar dinilai “BAIK” dan “SANTUN”.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung