Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

Opini  

Kebebasan Pers Masih Sebatas Isapan Jempol

“Wartawan yang patuh pada standar profesi, yang berusaha menghasilkan pelaporan yang akurat dengan cara yang etis pasti memperoleh kepuasan profesional”

Dr Rushworth Kiddler dari Institute Untuk Etika Global dalam Tema Etika Jurnalisme di Buku Etika Jurnalisme:Debat Global menjelaskan, tidak ada “hal tersendiri yang namanya etika jurnalisme” jika dibandingkan dengan etika kedokteran atau hukum. Tapi wartawan harus meliput “melalui lensa etika” tentang apa yang terjadi dalam masyarakat. Wartawan harus menggunakan bahasa etika selain bahasa sehari-hari dalam politik dan ekonomi.Mereka bukannya harus bertanya: “apakah ini berguna? atau apakah secara ekonomi ini layak?” tetapi “apakah ini benar?”
Dalam buku Shared Values for a Troubled World, Kiddler melaporkan tentang studinya di seluruh dunia mengenai nilai-nilai etika untuk menguji dalilnya bahwa ada landasan yang sama dalam etika.
Wawancaranya dengan para pemimpin 16 negara mengungkapkan serangkaian nilai ini yang hanya sedikit bervariasi dari satu negara ke negara lain, atau dari satu kebudayaan ke kebudayaan lain. Daftar ini termasuk cinta, kebenaran, kebebasan, kejujuran, kesetiakawan, toleransi, tanggungjawab, hidup.

“Di ruang redaksi, permasalahan etika menghasilkan sebuah kebuntuan antara mereka yang mengatakan, ” realistis saja, kita punya tenggat waktu dan pembaca yang harus dilayani,” dan mereka yang mengatakan,”persetan itu, ada prinsip yang dipertaruhkan di sini.” Dalam kebuntuan seperti inilah kerja etika yang nyata mulai bekerja”

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung