Tugas Berat Wartawan
Dalam pengantar Buku Etika Jurnalisme: Debat Global, Stanley dalam pengantar dengan topik ” Kungkungan Politik dan Pembelajaran Etika: Kesempatan Untuk Belajar Kembali” menerangkan dalam dunia jurnalistik, seorang wartawan selalu mencoba menghadirkan kebenaran sebagai tujuan dari pekerjaannya. Mulai dari memilih narasumber, wawancara hingga saat menuliskannya sebagai berita. Namun, wartawan jarang memperoleh kesempatan, sumber, atau pengetahuan seorang ahli untuk mendapatkan kebenaran sendiri. Karena itulah seorang wartawan selalu mengupayakan mengumpulkan informasi selengkap mungkin dari mereka yang memiliki semua itu.
Ketika seorang wartawan mewawancarai korban di sebuah daerah konflik, ia kerap telah mengetahui bahwa orang yang akan diwawancarai adalah korban kekerasan yang dilakukan pihak A. Namun ada kalanya ia hanya mendatangi kamp pengungsi tanpa tahu sebelumnya siapa orang yang akan diwawancarai. Si wartwan hanya berasumsi bahwa di kamp pengungsi ada banyak orang menderita. Wartawan selama berwawancara akan menggunakan naluri untuk membedakan mana cerita imajinatif (bohong) dan mana cerita yang benar. Karena itulah wartawan selalu menolak untuk wawancara yang mendapatkan pengarahan, misalnya didampingi ‘petugas’ atau dalam suasana resmi di mana si narasumber berada dalam tekanan dan seterusnya. Disinilah letak kesulitannya. Tak semua wartawan punya akses untuk menemui pihak-pihak yang bertikai di sebuah daerah konflik.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












