Pada akhirnya, barisan pertahanan warga mulai goyah dan rapuh oleh banyaknya jumlah aparat, juga oleh aksi-aksi mereka yang memang sudah masuk kategori kekerasan. Kalah jumlah dan kekuatan, warga masih tetap melakukan aksi protes dan menyatakan penolakan. Warga-warga yang cedera oleh aksi brutal aparat keamanan kemudian dibopong dan diantar kembali ke jalan raya untuk mendapat penanganan. Rata-rata warga yang cedera adalah kaum ibu dan anak-anak muda. Sementara itu, rombongan pembawa pilar tetap melanjutkan perjalanannya menuju lokasi lingko Tanggong, tetap dikawal ketat oleh aparat keamanan gabungan.
Kemudian, warga beberapa gendang kembali ke jalan raya dan berjaga-jaga di sekitar kampung Tere, sambil tetap meneriakkan suara-suara penolakan terhadap pemboran geothermal.
Mereka juga menyumpahi tindakan aparat yang memang sudah ‘main kasar’, anarkis, dan melakukan kekerasan fisik terhadap warga Poco Leok yang menolak pemboran geothermal. Sebagian besar warga gabungan berkumpul di simpang tiga kampung Tere.
Sekitar pukul 15.00, sebuah mobil patwal dari aparat keamanan datang menuju warga. Mobil aparat itu diketahui berisi pilar-pilar yang hendak diangkut ke lingko Tanggong.
Warga yang sedang berjaga-jaga kemudian bereaksi dan menghadang kendaraan aparat yang berisi pilar-pilar. Warga gerang, karena kendaraan aparat yang adalah fasilitas Negara dipakai untuk kepentingan perusahaan.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












