Scroll Ke bawah untuk melanjutkan

News  

CALON TANPA CALO

Oleh: Anton Bele, pemerhati filsafat sosial-politik

BIDIKNUSATENGGARA.COM | Calon untuk apa saja lewat calo. Posisi apa saja di Republik ini sudah rapuh oleh sistem pemilihan langsung yang jadi medan empuk untuk calo dan percaloan. Para calon terlilit oleh mafia calo. Maaf. Partai Politik pun masuk dalam kategori calo untuk calon.

Di Kupang, Dokter Husein Pankras, yang sudah pensiun dari tugas kedinasan, pernah berkata kepada penulis, “Pak Anton, untuk Bupati di Manggarai, kalau ada orang datang kepada saya, Pak Dokter, pakaian dinas Bupati sudah siap, besok Bapak dilantik jadi Bupati. Hah, itu langsung saya siap. Tapi untuk mencalonkan diri, maaf.” Ucapan ini berani saya kutip karena beliau pasti tidak keberatan. Di Atambua, almarhum Mgr. Anton Pain Ratu SVD, waktu sebagai Uskup Atambua, pernah bicara tegas di depan penulis, “Hei, Anton, bilang calon Bupati Belu ini dari Dokter. Itu hari dari tentara. Yah, saya tahu, Dokter itu untuk suntik, tentara itu untuk tembak. Bupati itu atur pemerintahan. Tentara dan dokter tidak cocok”.

Scroll kebawah untuk lihat konten
Ingin punya website? Klik Disini!!!

Ada istilah asing yang sudah lazim dipakai, ‘fit and proper test’. Dalam bahasa Indonesia, artinya, ‘uji pantas dan layak’. Tetapi kita sering kurang tanggap dalam pemilihan dan penentuan pejabat untuk jabatan apa saja. Akibatnya, pekerjaan tidak jalan.

Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID

+ Gabung