“Setelah misa, kami makan siang bareng Romo sambil ngobrol. Saya cuma bilang ke YM, ‘Adik, jangan pakai kata kau di depan Romo, itu tidak sopan.’ Tapi dia langsung berdiri dan pukul saya. Lalu Vinsen (VM), Mundus (MB), dan Lius (YH) ikut berdiri dan hajar saya habis-habisan,” ungkap Finus, yang tampak trauma dan kesakitan.
Finus menambahkan, “Saya sendirian lawan empat orang. Romo coba pisahkan, tapi mereka tetep cari kesempatan buat pukul dan tendang saya. Saya tidak mengerti kenapa mereka begitu ganas. Dokter bilang tulang kecil di tenggorokan dan hidung saya patah, harus operasi secepatnya. Ini tidak adil, ramai-ramai pukul saya sampe parah begini,” tambah Finus.
Sebagai oknum pendidik yang seharusnya menjadi teladan, VM justru terlibat dalam tindakan kekerasan ini, menimbulkan pertanyaan serius tentang integritasnya sebagai kepala sekolah.
Saat dikonfirmasi terpisah oleh tim media, VM hanya mengelak dengan alasan mabuk. “Aduh, adik, kami lagi tidak sadar karena mabuk semua,” katanya singkat, tanpa ada tanda penyesalan atau komitmen untuk bertanggung jawab.
Kasus ini menyoroti kegagalan oknum guru dalam menjaga etika, terutama di lingkungan religius seperti kapela. Finus, yang kini berjuang pulih, telah melaporkan kejadian ini ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polres Malaka.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












