Menanggapi respons dari pemerintah daerah mengenai anggaran, Kristo menyatakan keprihatinannya. Ia merasa bahwa alasan keterbatasan anggaran yang terus menerus disampaikan oleh Pemda adalah sebuah kebijakan yang tidak konsisten. Jika pemerintah pusat dapat melaksanakan proyek-proyek lain, maka seharusnya perhatian yang sama dapat diberikan untuk pembangunan infrastruktur di daerahnya.
“Saya kira pendapat saya ini sudah yang ke sekian kalinya, mulai dari awal jembatan ini putus saat Seroja, dan ketika pasca Seroja, tetapi jawaban Pemda masih berputar-putar mengenai keterbatasan anggaran. Masa sekelas Pemda mengeluh soal anggaran, terus lobi-lobi di pusat hasilnya apa selama ini, dibandingkan pembangunan yang lain?,” ungkap Kristo.
Kristo menekankan pentingnya jembatan Koloweuk untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Akses yang baik ke pasar antar kecamatan tidak hanya memberikan keuntungan bagi pedagang, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat di di wilayah itu. Ia juga mengingatkan bahwa dengan tidak adanya solusi jangka panjang, keselamatan masyarakat terancam, terutama saat musim penghujan tiba.
“Menurut saya jembatan ini penting karena menghubungkan 3 kecamatan yaitu Malaka Timur, Botin Leobele, dan Laen Manen, dan ketika jembatan ini baik, pertumbuhan ekonomi mikro pasti akan meningkat karena akses ke pasar-pasar tradisional antar kecamatan pasti meningkat, ini belum musim penghujan, kalau musim penghujan bahaya karena bisa menelan korban ketika masyarakat nekat langgar,” tambah kristo
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












