Zarus menekankan, kehadiran dalam upacara bukan hanya sekadar formalitas, tetapi juga representasi dari rasa cinta tanah air. Dalam konteks ini, perbandingan antara Henri Melki Simu dan Felix Bere Nahak memberikan gambaran jelas mengenai standar partisipasi yang diharapkan dari tokoh publik.
“Publik perlu menyadari bahwa tindakan nyata lebih berarti daripada sekadar kata-kata, terutama dari mereka yang mengharapkan untuk memimpin”, kata Zarus.
Zarus berharap agar masyarakat tidak terpengaruh oleh berita palsu yang beredar. Sebaliknya, dia ingin agar publik lebih membuka pikiran untuk menganalisis fakta dan memahami situasi secara utuh. *(Ferdy Bria)
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












