Negara betul-betul diam, apatis. Sementara mereka digaji dengan uang pajak warga Republik ini untuk merespons persoalan rakyat.
Di atas semuanya itu, terhadap seluruh perjalanan hidup manusia di dunia fana dengan pelbagai dinamika pengalaman sakit dan derita, saya sangat bersyukur atas kefanaan hidup.
Bersyukur karena manusia tidak hidup selama-lamanya di dunia ini. Orang sakit, tidak sakit selama-lamanya. Orang terpasung, tidak terpasung selamanya. Orang terpasung diabaikan, tidak diabaikan selama-lamanya. HAM-nya dilanggar, tidak dilanggar selama-lamanya.
Ada titik akhirnya. Titik akhir itu adalah kematian. Saya bersyukur, manusia bisa mati. Tidak selamanya manusia hidup di dunia ini.
Sebaliknya, kepala daerah bahagia karena kedudukannya dan apatis atas kasus kematian warga terpasung, tapi mereka tidak bahagia selama-lamanya. Wakil rakyat dan kepala dinas sosial-dinas kesehatan bahagia karena digaji dan jabatannya, tapi mereka tidak bahagia selama-lamanya. Komnas HAM juga demikian. Tidak merasa nyaman selama-lamanya di hadapan persoalan yang mestinya mereka merespons.
Tokoh agama juga demikian. Mereka bahagia karena keistimewaan sosial-budaya-keagamaan yang mereka punyai, tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung selama-lamanya. Semuanya ada titik akhirnya, yakni kematian.
Berita Terkini, Eksklusif di WhatsApp Bidiknusatenggara.ID
+ Gabung
Tetap Terhubung Dengan Kami:
Laporkan
Ikuti Kami
Subscribe
CATATAN REDAKSI: Apabila Ada Pihak Yang Merasa Dirugikan Dan /Atau Keberatan Dengan Penayangan Artikel Dan /Atau Berita Tersebut Diatas, Anda Dapat Mengirimkan Artikel Dan /Atau Berita Berisi Sanggahan Dan /Atau Koreksi Kepada Redaksi Kami Laporkan,
Sebagaimana Diatur Dalam Pasal (1) Ayat (11) Dan (12) Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 Tentang Pers.












